Beranda blog

Selain Model Dunia, Raihan Fahrizal Juga Drumer

0

BANDUNG,NOISEGARAGE.ID: Sebelum akhirnya menapakan kakinya di run way Saint Laurent Paris, model asal Bandung Raihan Fahrizal dikenal sebagai BMX Rider juga produser musik.

Bahkan, musisi yang malang melintang di hampir setiap pensi SMA di Kota Bandung itu pun aktif di industri kreatif.

Dia memiliki merk pakaian yang digandrungi anak muda. Seiring kariernya yang go international, merk Helldye yang dirintisnya sejak SMP itu ikut mendunia.

“Sebetulnya nggak kepikiran jadi model, bahkan sebelumnya aku hanya fokus di musik hobi ku main BMX,” kata Raihan di Bandung, (9/8/2021).

BACA JUGA: Carvern Grey dan Kidehan Rilis Single Galau

Namun Raihan mengatakan bahwa pertemuannya dengan seorang perempuan di salah satu Coffe Shop justru memotivasinya menjalankan semuanya.

“Dunia model aku jalanin, begitupun musik dan hobi ku. Kalau brand baju dan lainnya memang dari awal jadi usahaku sendiri,” kata dia.

Remaja dengan pembawaan yang hangat itu mengaku selalu menjalani aktivitas dengan apa adanya namun dengan target-target yang jelas.

Mandiri

Selain sangat humble, di lingkungannya remaja yang jago main drum itu dikenal mandiri dan cenderung kreatif.

Hampir setiap kreativitasnya pun menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan uang, sepertihalnya musik. Di dunia musik, karya-karya Raihan cukup apik dan mampu mendatangkan rupiah, begitupun dengan produk-produk fashionnya.

Prestasi di BMX apalagi, sudah banyak turnamen yang diikuti Raihan bersama adiknya Nauval dan sarat akan prestasi.

(NGF)

‘Palu’ Djent BLESS THE KNIGHTS Kembali Terlontar Lewat Single “Mjölnir”

0
Bless the Knight
mrfritzfaraday-Mjölnir official photo

BANDUNG,NOISGARAGE.ID: Bongkar pasang formasi tidak menyurutkan semangat Bless the Knights untuk terus berjuang di ranah musik ekstrim yang tersegmentasi. Masa pandemi pun menjadi momentum tepat untuk mengeksekusi kebangkitan unit progressive metal/djent asal Tangerang ini.

Sebuah single fresh sarat manuver teknikal bertajuk ‘Mjölnir’ telah dirilis 17 Juli 2021 lalu dalam format audio stream dan tersedia di berbagai platform digital, lalu disusul peluncuran video versi ‘guitar playthrough’ pada pertengahan hingga akhir Agustus 2021 mendatang.

‘Mjölnir’ adalah sebutan untuk senjata palu dari Thor, karakter fiksi pahlawan super yang dipopularkan Marvel Comics. Nah, seperti palu Thor yang bisa kembali ketangannya setelah dilontarkan ke musuh, gitaris Fritz Faraday ingin Bless the Knights bisa kembali ketangannya, yakni sesuai dengan visi yang diinginkannya.

“Gue ingin menunjukkan ‘palu’ gue yang lama hilang balik kembali. Itu basic (pemikiran) yang mendorong gue untuk bikin karya ini. Gue harus mempertahankan ciri dari Bless the Knights, yaitu agresif, teknikal, tapi catchy di reff-nya,” kata Fritz.

Otak utama di balik terciptanya Bless the Knights ini menyebut ‘Mjölnir’ yang diletupkan dalam format instrumental tersebut sebagai pencapaian terbaiknya sejauh ini. Tidak hanya pola komposisi yang digarap cukup lama, namun juga dalam hal produksi. Dia mengaku sampai harus bolak-balik revisi untuk mendapatkan detail suara yang dihasratkannya, saat menjalani tahapan mixing dan mastering.

Kali ini, Fritz mendapat sentuhan magis dari Ricky Aprianto dari Rostels Records, yang memoles sound ‘Mjölnir’ menjadi lebih heavy, sekaligus sinematik. Fritz bersyukur akhirnya dipertemukan dengan Ricky yang jenius dan paham betul apa yang dia inginkan, khususnya dalam pengolahan sound rekaman.

Bless the Knight
Gitaris Bless the Knight Fritz (foto IST)

“Karena gue pengen lagu ini sedetail mungkin. Gue pengen unsur sinematik-nya ‘keluar’, dan banyak layering. Itu yang susah. Karena ini lagu instrumental, permainan solo gitar gue di situ juga ibarat puncak dari keseluruhan bagan lagu. Teknis sih. Jujur, gue memang belum puas dengan hasil mixing dan mastering (di album) sebelumnya,” kata Fritz.

Konsep “Mjölnir” sendiri – jika ditinjau dari sudut musikal – bisa dibilang merupakan perpanjangan dari formula yang diaplikasikan Fritz saat menggarap album ‘Dunamous’ (2018). Fritz tidak mendengarkan referensi apa pun saat menulis komposisinya, dan berusaha mengikuti kata hatinya seorisinal mungkin.

“Sebenarnya ‘Dunamous’ sama ‘Mjölnir’ itu kayak anak kembar, dilihat dari sinematik, groove dan solo gitarnya. Konsepnya sama. Gue kayak bikin versi cloning-nya, tapi lebih bebas. Karena gue jalan sendiri sekarang jadi nggak ada tekanan. Dengan drumer yang sekarang kami coba bermain lebih dynamic, makanya groove-nyaenak banget,” kata dia.

Oh ya, untuk penggarapan single terbaru ini, formasi Bless the Knights hanya dihuni Fritz dan drumer Robby Pratama. Fritz tak menampik bahwa selama ini, musisi yang pernah memperkuat Bless the Knights memang tak pernah bisa memenuhi visi yang ditargetkan. Bukan hanya dalam lingkup musik, namun juga konsistensi dalam komitmen. Tapi dengan Robby, dia merasa bisa menyalurkan ide kreatifnya dengan tepat.

Fritz menagaskan bahwa ‘Mjölnir’ pun tetap berada di jalur Bless the Knights yang cenderung ke corak djent, sebuah ‘ranting’ dari ranah progressive metal.

“Gue sangat percaya diri menyebutnya djent, tapi tetap lebih teknikal. Tapi ya, mungkin berbeda dengan djent yang dimaksud orang-orang. Benang merah musik gue di progressive, dan musik gue terus berkembang,” kata Fritz.

Bless the Knights

Bless the Knights terbentuk pada 2009, digagas oleh Fritz dengan nama awal Blitzkrieg. Setahun kemudian merilis album debut ber-genre metal progresif bertajuk ‘Energy of Anger”. Awal 2016, nama Blitzkrieg diubah menjadi Bless the Knights, yang juga dijadikan judul album keduanya bekerjasama dengan label independent asal Ohio, Amerika Serikat, Shredguy Records.

Salah satu lagu di album tersebut, yakni ‘Surrounded by Idiots’ yang menghadirkan permainan gitar dan bass dari Eet Sjahranie (edane) serta Arya Setyadi (Voodoo, Wolfgang). Pada 2016 juga, Bless the Knights dengan lagunya ‘You’ve Created Your Own Monster’ terpilih sebagai nominasi AMI Awards untuk kategori ‘Karya Metal Terbaik’.

Pada 2018, album ‘Dunamous’ dirilis, antara lain via label independen asal Hongkong, Nowed Records yang sekaligus menjadi publisher internasional dari karya-karya terbaru Bless the Knights. Album ini juga kembali masuk nominasi AMI Awards untuk kategori ‘Karya ProgresifTerbaik’ dan terpilih menjadi salah satu dari 30 besar Wacken Metal Battle Indonesia.

Wacken Metal Battle Indonesia adalah ajang perlombaan untuk bisa tampil langsung di Jerman tersebut. Dengan album ‘Dunamous’ kala itu, Bless the Knights juga sangat aktif melakukan tur di Indonesia (Jawa-Bali), melaksanakan festival besutan mereka sendiri (Knights Fest dan Knights League) hingga menghelat tur Asia Tenggara di beberapa kota di Malaysia dan Thailand,

Kejutan apalagi yang akan dibuat oleh Fritz Faraday dan Bless the Knights nanti, tunggu saja tanggal mainnya.

(NGF)

Spotify link:

Bless the Knights- Mjölnir (Instrumental version)

https://open.spotify.com/album/4j3pcbHMLXpP0s7gFSkoDg?si=vPPq2XMpQ5SOFKswusj3cg&dl_branch=1

Jenggala, Membuka Jalan dengan Menantang Jarak

0
jenggala
jenggala band (foto IST)

NOISEGARAGE.ID: ‘Menantang Jarak’ merupakan single pertama kami, JENGGALA, sebuah unit rock dari Kota Bandung yang memulai babak baru sebagai sebuah band. Lagu ini menjadi perkenalan bagi JENGGALA yang beranggotakan Pupu (vokal), Lukas (bas), William (gitar) dan Usenk (drum) dalam memberikan varian menu dari musik keras.

‘Menantang Jarak’ merupakan ekspresi bagi JENGGALA dalam menikmati sensasi berkendara. Karena setiap perjalanan berkendara, menggunakan sepeda motor khususnya, bukan hanya sebatas mengendalikan mesin untuk mencapai tujuan. Namun, merupakan bagian dari semacam proses pembelajaran.

‘Menantang Jarak’ tidak hanya sebatas ekspresi penuntasan hasrat menikmati tunggangan. Tapi turut membuka ruang penyadaran kita sebagai manusia. Bagaimana rasa solidaritas, loyalitas, respect, disiplin, dan bahkan menyentil kepekaan kita sebagai manusia.

‘Menantang Jarak’ juga mencoba membuka pandangan dalam setiap perjalanan berkendara sebetulnya kita melewati banyak persoalan. Yang bagi sebagian orang justru dianggap hal lumrah, padahal itu cukup krusial. Mulai dari persoalan sosial, budaya, ekonomi, politik, keamanan, bahkan menyoal kebebasan berekspresi.

“Sebetulnya idenya cukup sederhana, hanya ingin berekspresi saat berkendara aja. Tapi kayaknya selain menikmati, saya sendiri suka ikut berpikir bahwa yang kita temui di jalan itu bukan hal biasa, dan itu jangan dianggap remeh karena bisa jadi itulah yang akan mengubah nasib kita atau nasib orang lain,” kata Pupu, vokalis sekaligus penulis lirik ‘Menantang Jarak’

‘Menantang Jarak’ turut menjadi sumpah serapah bagi JENGGALA sendiri. Umpatan sekaligus mantra yang menantang seberapa jauh JENGGALA bisa berkarya.

“Makanya sengaja jadi single pertama kita sekaligus menjadi pemacu dan tantangan buat kita-kita seberapa konsisten bisa bermain musik,” tambahnya.

‘Menantang Jarak’ menyuguhkan sajian rock yang mencoba berekspresi bebas tanpa terjebak dalam sub genre variannya. Namun, racikan irama khas southern dan rock n roll tampil cukup dominan.

 “Kita sih pasti setiap orang bawa referensi dan warna berbeda dan ya ini jadi rock-nya JENGGALA. Ruh dari musik rock dan metal yang kita ambil. Yang terpenting kita mainnya nyaman dan menikmati dan yang denger juga semoga bisa menikmati musik khas JENGGALA,” kata Lukas, basis dan arranger ‘Menantang Jarak’

‘Menantang Jarak’ menjadi single pertama yang menjadi pembuka dari album perdana JENGGALA. Segala persiapan untuk album ini tengah diramu secara matang bersama tim dari rumah produksi Gema Rimba.  Saat ini, single ‘Menantang Jarak’ sudah bisa didengarkan melalui sejumlah layanan musik digital seperti: Spotify, iTunes, Deezer dan YouTube Music.

(NGF)

Pandemi Tak Surutkan Mr Sonjaya Berkarya

0
Mr Sonjaya
Interview Vokalis Mr Sonjaya bersama Noisegarage (foto Noisegarage)

NOISEGARAGE.id: Pandemi yang berkepanjangan sangat berdampak di semua bidang, mulai dari perdagangan, usaha bahkan kegiatan musik. Termasuk di Kota Bandung, banyak musisi yang terpaksa menghentikan kegiatannya, bahkan mengurungkan jadwal manggungnya.

Kendati begitu, tidak sedikit musisi yang justru lebih produktif berkarya di tengah pandemi. Sepertihalnya band Mr Sonjaya yang tetap eksis berkarya meski hanya di dunia maya.

Vokalis Mr Sonjaya Dimas Dinar Wijaksana mengaku sempat kaget dengan kondisi yang tidak biasa dan terjadi tiba-tiba. Namun, kata dia, semua harus dihadapi dengan kepala dingin dan senyuman. Alhasil, dirinya merespon imbauan Work From Home (WFH) dengan tetap berkarya di rumah.

BACA JUGA: Band Thursday Evening Terus Melejut dengan Karyanya yang Manis

“Jelas kaget, karena biasa dipadati jadwal manggung, kini tidak ada lagi dan harus di rumah. Hikmahnya justru kita jadi banyak menghasilkan karya dan lebih fokus,” kata Dimas di Bandung.

Dia mengaku semakin terpacu secara imajinasi, karena panggung tidak ada, main band secara virtual pun kurang maksimal. Masing-masing personel pun berusaha produktif berkarya, bahkan memiliki kegiatan baru seperti bertani dan lainnya yang terhindar dari kerumunan.

“Kalau sewaktu-waktu ada kerinduan berkarya, kita bisa membuat masing-masing dan hasilnya dikirim lewat WhatsApp grup. Hasilnya lebih bagus, karena masing-masing terfokus. Saya pikir kita jadi banyak tabungan karya, yang suatu saat (kondisi normal) kita bisa keluarkan,” kata dia.

Menurut dia, di situasi seperti saat ini, semua personel dituntut mampu memanfaatkan teknologi digital untuk tetap berkarya dan memikirkan karya bisa diperdengarkan ke khalayak. Misalnya bisa lewat youtube dan lainnya yang tidak memerlukan aktivitas di luar rumah.

“Band hari ini harus mulai akrab dengan dunia digital agar bisa tetap eksis meski dalam situasi pandemi. Kalau hanya mengandalkan off air, akan repot jika situasinya seperti ini,” kata Dimas. 

Untuk diketahui, Mr. Sonjaya adalah band asal Kota Bandung yang sudah bermain musik sejak 2008. Saat ini mereka terdiri dari Dimas Dinar Wijaksana (Vokal), Ridha Kurnia Waluya (Gitar, Glockenspeil, Pianika), Yaya Risbaya (Drum, Perkusi), Berland Maulana (Keyboard) dan Andriana (Bass).

Cita-cita utama mereka adalah ingin menyapa dan berbagi cinta dengan banyak orang di berbagai belahan dunia lewat musik dan karya yang mereka buat.

(NGF)

Tak Pedulikan Genre, BTH Fokus Pada Story Telling

0
Beneath The Hermevoix (foto IST)
Beneath The Hermevoix (foto IST)

NOISEGARAGE.ID: Beneath The Hermevoix (BTH) adalah band Experimental Rock asal Indonesia yang membuat musik dengan Story-Telling sebagai fokus utamanya.

Story menjadi aspek paling penting bagi Beneath The Hermevoix, karena Story akan menjadi fondasi dan mendikte sepenuhnya warna musik dalam lagu – lagu Beneath The Hermevoix.

Enggar Srinandhito sang Komunikator mengatakan bahwa bandnya tidak memandang genre sebagaimana kebanyakan musisi. Dimana kebanyakan band mengategorikan diri mereka berdasarkan genre yang dimainkan.

Beneath The Hermevoix memandang genre sebagai ‘Story Tools’ dan latar untuk membantu menggambarkan cerita dari lagu yang dimainkan. Seringkali genre dalam lagu Beneath The Hermevoix berubah – berubah.

BACA JUGA: Bless the Knights Helat Tur Asia Tenggara Perdana

“Ini semua dilakukan untuk memberikan kedalaman kontek, setting dan karakter yang unik kepada lagu tersebut,  sehingga setiap lagu memiliki identitas dan kisahnya masing – masing,” kata Enggar.

Beneath The Hermevoix

Enggar Srinandhito (Communicator)

Fikriana K. (Guitar/Score)

Shakti Satya Persada (Guitar/Aux.Inst)

Fauzan Arisaputra (Bass)

Hasbi Fauzi Rohman (Drum/Percussion/MC)

Reza Kaesar (Keyboard)

(NGF)

Single “Inklusif” Jadi Penanda Kembalinya Glory of Love dari Hiatus Bermusik

0
Glory
Glory of Love unit pop punk (foto IST)

NOISEGARAGE.ID: Single ‘Inklusif’ milik band Glory of Love menjadi penanda bangkitnya band unit pop punk asal Bandung ini, setelah sebelumnya gonjang-ganjing mendera band itu.

Perbedaan pendapat menjadi pemicu retaknya kekompakan band yang berdiri sejak tahun 2002 itu. Tanggal 14 Februari 2019 yang seharusnya menjadi ‘sweet seventeen’ band ini, Ivan Prabumi sang founder/vocalis/frontman dari Glory Of Love memutuskan untuk mundur sementara. 

Keputusannya itu diupload melalui akun Instagram pribadinya, dia memilih untuk istirahat sejenak dari dunia musik. Karena selama ini Ivan adalah frontman di Glory Of Love, keputusannya itu sangat memengaruhi pergerakan di grup tersebut.

glory
Atwork Glory of Love (IST)

BACA JUGA: “WE ARE” Jadi Single Perdana XABREHNA

Sejak saat itu, Herli, bassist Glory Of Love terus mengupayakan agar bisa bermusik kembali. Bahkan dia mencoba mengajak Mamat Skill yang selalu membantu Glory Of Love pada posisi lead guitarist semenjak ditinggalkan gitaris terdahulu Eq Bangkit.

Herli pun mencari posisi seorang drummer, karena pada saat Ivan mundur, Boriz, drummer Glory Of Love sejak 2004 juga memilih untuk mengundurkan diri.

Pada akhirnya pinangan Herli pun jatuh kepada Bimo drummer Olegun Gobs.

Pada pertengahan 2020, rekonsiliasi pun terlaksana. Ivan dibuat yakin untuk Kembali berkarya bersama Glory Of Love. Dengan komposisi yang sudah lengkap, Glory Of Love sepakat untuk kembali bermusik.

Tanggal 14 Agustus 2020 lalu lahir single ‘Inklusif’ dengan warna music dan rasa baru dari band ini. Single Inklusif ini mempresentasikan tentang gejolak internal di band itu. Isu perbedaan pendapat dalam segala aspek kehidupan yang kerap terjadi akhir-akhir ini pun masuk dalam lirik single itu.

Single terbaru, “INKLUSIF” dari Glory Of Love ini sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital. Personel baru, spirit baru, serta karya terbaru menjadi tonggak kembalinya Glory Of Love setelah sekian lama hiatus.

(Faiz/NGF)

Band Thursday Evening Terus Melejut dengan Karyanya yang Manis

0
Thrusday Evening band (foto IST)

NOISEGARAGE.ID: Mengusung genre Emo/Post Hardcore, band THURSDAY EVENING melejut dengan karya-karyanya yang manis dan sangat keren. Di awal debutnya 20 September 2018, band ini sudah memikirkan karya yang bisa dikenang para penggemarnya.

Hasilnya, di tahun yang sama  Ofityana (Vocal), Dede (Gitar), Ricky (Gitar), Sandy (Bass) dan Dery (Drum) merilis single bertajuk ‘Missing You’.

Tidak ingin puas dengan satu karya, Thursday Evening pun langsung meluncurkan EP di tahun 2019 berjudul ‘PLAINNESS SINS’.

Di album mininya itu, Thursday Evening memainkan lirik yang tidak hanya bercerita kesedihan, tetapi juga semangat dan kehidupan.

BACA JUGA: Band Rumah Sakit Jiwa Siap Makalangan

“Dari lima lagu di EP kami, lagu berjudul BISU menjadi hits single yang dijagokan,” kata salah seorang dari mereka.

Selain banyak karya yang dilahirkan, panggung mereka pun tak terhitung.  Mulai dari pensi SMA hingga beberapa event lokal pernah mereka jajaki.

Berikut jejak penjelajahan mereka:

  • INDIE COMMUNITY,DISTRO CHANEL BANDUNG
  • FESTIVAL HUT TVRI BANDUNG
  • INDIE FEST,MIKO MALL BANDUNG
  • DJARUM COKLAT FESTIVAL,ANDIR BANDUNG
  • HUT KABUPATEN BANDUNG
  • PENSI SMA 1 MARGAHAYU BANDUNG
  • DCDC SHOUTOUT CAFE SHOW 1,WAROENG VILLA SOREANG
  • BANDUNG
  • DCDC SHOUTOUT CAFE SHOW 2,CAMP MERAH PUTIH KAB.BANDUNG
  • DCDC SHOUTOUT DAY KAB.BANDUNG,AT WARUNG ALAM KAB.BANDUNG
  • REV MUSIC FEST AT PASCORNER BANDUNG
  • ROAD TO SUPER ROCK ADVENTURE,UNIBA
  • INDIE MUSIC FEST,JUNGLE LAND BOGOR
  • INDIEFEST GARAGE MALL,CIREBON
  • ANYER ROCK FEST,ANYER BANTEN
  • DEATHCORE PARADISE,CIMAHI

(NGF)

 

Rock 90 an Jadi Oasis di EP GDN Band

0
GDN
Grunge Never Die (foto IST)

NOISEGARAGE.ID: Sentuhan rock 90-an menjadi pembeda dari karya band grunge asal Purwakarta, Jawa barat Grunge Never Dies (GND) ini. Band ini muncul dari komunitas grunge di daerah berjargon ‘Istimewa’. Seperti band grunge lainnya, musik band ini juga terpengaruhi Nirvana.

Selain aktif mengisi gigs lokal, terutama di grunge scene underground, band ini juga sudah merilis EP.

“Band ini kami bentuk sekitar tahun 2009 dan sudah banyak manggung, khususnya di Purwakarta. Kami sangat terpengaruh musik-musik rock dan grunge, seperti Silverchair, Soundgarden, Nirvana, The Vines, The Melvins, Sonic Youth, hingga Seether,” kata Banone sang vokalis.

BACA JUGA:  Nirvana 

Band ini terdiri dari satu pemain gitar sekaligus vokal, bass juga vokal dan seorang drumer. Banone gitar/vokal, Renald bass/vokal dan Yogi drumer.

EP bertajuk ‘Para Pecundang’ itu sedikit berbeda dari band-band yang memengaruhinya. Mereka memasukan sentuhan rock 90-an. Sentuhan rock 90 an ini menjadi pembeda GDN dari band-band bergenre grunge lainnya.

“Di EP ini kami jagokan Pecundang dan Manusia Bermuka Dua,” kata dia.

(NGF)

Formasi Baru Restless Segera Launching Album

0
Restless band (foto Web)

NOISEGARAGE.ID: Band Gothic asal Ujungberung Kota Bandung Restless dikabarkan tengah menggarap album baru. Dengan formasi baru, Restless pun memasukan nuansa syimphony yang lebih wah dan nyaman di telinga.

“Kalau nggak ngaret tahun 2020 atau 2021 kita launching,” kata Drumer Restless Abet saat berkunjung ke Noisegarage di Bandung.

Album itu sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan para penggemarnya (Staygoth) yang sudah lama menanti karya-karya band yang berdiri 25 tahun silam itu.

Saat ini, kata dia, semua personel tengah konsen pada proses perampungan album. Dia berharap sekitar delapan lagu di album itu selesai tahun ini dan dilaunching.

Di Restless yang sekarang Abet mengaku tidak terlalu kesulitan menyatukan keinginan personel dengan karakter musik Restless, terlebih sebagian personel yang kini mengisi band adalah aditional player yang sekarang gabung di Restless.

BACA JUGA: LAD Siap Launching Album Baru

Formasi Riski Abet Risnandar (drum) Dice Midyanty (Keyboard) Ahmad (Bass) Dadi Ferdiansyah (Gitar) Adi Santosa (Violin) dan Alice (Vokal) telah mengubah single ‘Fatamorgana’ milik Restless lebih aduhai dan ngena banget.

Baik sound maupun aransemen, lagu Fatamorgana remake ini berbeda dari rilisan 2002 silam tanpa meninggalkan khasnya.

“Konsep lagu ini lebih ke syimphony, makanya kita coba masukan violin, dan Alhamdulillah banyak yang suka,” kata dia.

Single Fatamorgana itu pun seolah menjadi bocoran bahwa album barunya nanti tidak akan jauh dari symphonyc. Intinya, kata Abet, Restles ingin ada warna baru dan lebih wah.

“Fatamorgana versi sekarang ini bisa dibilang eksperinmental, dan anak-anak (Restless) senang karena banyak yang mendukung,” kata dia.

(NGF)

 

20 Tahun, L.A.D Tetap Eksis Berkarya

0
LAD
Life-After-Death-foto-IST-768x503

NOISEGARAGE.ID: Band Gotik asal Cimahi ‘Life After Death’ (LAD) tetap eksis dan terus menelurkan karya-karya yang menggelegar.

Awal berdiri tahun 2000 silam, band ini mengusung genre Death Metal. Namun sekitar tahun 2002 LAD menambahkan suara wanita cantik dan mengubah genre menjadi Gothic.

Dengan formasi Nina Cutex (Female Vocal), Noy Gothic Barker (Drum), Buddy (Lead Guitar) dan Ted denose (Bass) LAD merilis album bertajuk ‘Tears of Angel’ pada tahun 2004. Musik LAD semakin komplit dengan masuknya Keyboardis Yanto di tahun yang sama.

Kemudian tahun 2012 LAD kembali merilis album ‘Pengadilan Tuhan’. Terpengaruh band Amorphis, Tristania, My Dying Bride, dan Paradist Lost, musik LAD sukses memberi kesan sejuk di telinga.

BACA JUGA:  Ubah Genre, Guzarat Rilis Single Antagonis

Saat ini, dengan formasi Nina (Vokal Wanita), Hendro (Drum/growl), Denz (Gitar), Ewink (Gitar), Buddy (Bass), Yanto (Keyboard) dan Sep Sparow (Violin), LAD tengah konsep menggarap album ketiganya. Masing-masing personel pun terus mematangkan musik untuk album lengkap yang direncanakan rilis tahun 2021 itu.

(NGF)